RSS

Essai

Manusia Merusak Alam

Di Indonesia, kendaraan bermotor merupakan sumber utama polusi udara di perkotaan. Dari sekian banyak faktor yang menyebabkan polusi udara, faktor ini begitu populer di kalangan masyarakat. Pasalnya kendaraan bermotor kini bukan lagi merupakan kebutuhan sekunder maupun tersier, namun kendaraan bermotor telah menjadi kebutuhan primer yang tak bisa lepas dari kebutuhan manusia layaknya nasi dan makanan. Tentu saja hal ini menyebabkan begitu banyak masalah, dan salah satunya ialah masalah lingkungan ini.

Dengan semakin tuanya usia bumi kita ini, tentu saja masalah polusi udara bukan merupakan masalah yang patut atau layak disepelekan. Dengan menambahnya kendaraan bermotor, tentu menambah pula rank kegiatan manusia sebagai sumber polusi udara, dimana pencemaran udara lainnya adalah disebabkan oleh sumber-sumber alami.

Sebenarnya pencemaran udara itu sendiri diartikan sebagai kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global. Namun dari sekian ratus juta penduduk di Indonesia, tak banyak yang menyadari hal ini.

Read the rest of this entry »

 

Posted by on 1 October 2010 in Academic

Leave a comment

Cerita Inspirasi Orang Lain

Suatu waktu, guru ngajiku sedang berdiam diri di depan rumahnya. Aku melihat temanku, nampaknya dia sedang banyak masalah. Langkahnya lesu dan mukanya nampak penat. Temanku ini  menceritakan semua masalahnya pada guru ngaji kami ini, dan beliau hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta temanku untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. Lalu menyuruh temanku untuk mrminumnya, tentu saja rasanya asin dan pahit. Namun guruku ini hanya tersenyum melihatnya. Ia, lalu mengajak aku dan temanku untuk berjalan ke tepi kolam dekat tempat tinggalnya.

Kami pun berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah kami di tepi kolam yang tenang itu. Guru ngajiku lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam kolam itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk. Dan menyuruh temanku meminumnya lagi. Tentu saja garamnya tidak terasa. “Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Read the rest of this entry »

 

Posted by on 15 September 2010 in Academic

Leave a comment

Cerita Inspirasi Sendiri

Sebuah cerita inspirasi pribadi yang ingin kubagi adalah tentang sesuatu yang membuatku selalu terinspirasi. Semua bermulai dari karir belajarku yang kumulai dari kecil hingga aku dapat masuk di sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Aku menjalani Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas di desaku. Desa dimana aku hidup sehari-hari bersama orangtua dan keluargaku.

Namun setelah aku lulus SMA, aku diterima di salahsatu Perguruan Tinggi Negeri di kota lain. Ini menjadi awal perjalanan hidupku sendiri merantau jauh dari keluarga. Aku selalu mengingat sesuatu yang dapat memberiku inspirasi, yaitu sebuah guci cantik yang dipampamg di pertokoan-pertokoan mahal. Sebuah guci yang berasal dari tanah liat yamg kotor  yang disulap menjadi begitu indah.

Aku tahu bahwa sebuah guci ini tercipta dari segumpal tanah liat yang dipisah dari lingkungannya dan dibawa ke suatu tempat untuk dibanting dan diputar. Begitu hal yang kupikirkan terjadi pada diriku pula. Setelah itu segumpal tanah liat itu dibawa ke sebuah tungku yang sangat panas, lalu dibakar sehingga bentuknya berubah keras. Penderitaan tanah liat ini belum selesai, dia dibawa ke suatu tempat dan mulailah seseorang melukis di badannya dan aneka warna melumuri tubuhnya. Guci itu dibawa kembali ke tempat tungku pembakaran tadi dan dimasukan kembali ke dalam tungku yang lebih panas.

Akhirnya sang guci pun dikeluarkan dari tungku, dan diletakkan di sebuah tempat di balik kaca. Sang guci pun menjadi sebuah benda yang sangat indah di akhir penderitaan yang telah dialaminya.

Semua penderitaan sang guci ini mulai kualami, dari awal aku terpisah dari lingkunganku, dan mencari ilmu di Institut Pertanian Bogor yang gaya hidupnya begitu keras, penuh dengan pengujian yang dapat menjadikan manusia menjadi lebih baik. Semua penderitaan ini kurasakan tanpa orangtua dan keluargaku di sisiku, meskipun jiwa mereka selau tersimpan di hatiku. Begitulah yang selalu kupikirkan tentang hidupku, yang kuyakin di akhir penderitaanku ini akan sama dengan hal yang terjadi pada guci tadi. Karena kita sadar bahwa semua penderitaan itu sebenarnya tujuan-Nya untuk menempa kehidupan kita yang lebih baik dimasa depan.

 

Posted by on 15 September 2010 in Academic

Leave a comment